SURABAYA – Di dunia digital, perhatian dapat diraih dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan dibangun melalui proses panjang. Sebuah video dapat menjadi viral dalam semalam, tetapi belum tentu meninggalkan kebaikan bagi orang yang menontonnya. Di tengah budaya digital yang kerap mengukur keberhasilan melalui jumlah tayangan, tanda suka, dan pengikut, muncul pertanyaan mendasar bagi generasi muda: apakah konten yang dibuat hanya ingin dilihat, atau benar-benar ingin memberikan arti?
Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya dalam kegiatan *Digital Peace Creator: Pelatihan Pembuatan Konten Edukatif Pelajar dalam Rangka Pencegahan Radikalisme dan Terorisme* yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur melalui program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Kamis, 22 Oktober 2026, di Convention Hall Arif Rahman Hakim, Jalan Arif Rahman Hakim Nomor 131, Surabaya.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis membuat konten, melainkan ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kreativitas digital selalu beriringan dengan tanggung jawab sosial. Pelajar didorong untuk memahami bahwa media digital memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini, menyebarkan nilai, dan memengaruhi cara masyarakat memandang perbedaan.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak lagi cukup. Generasi muda juga perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, mengenali pesan yang berpotensi memecah belah, serta menghadirkan narasi yang menguatkan persaudaraan dan kemanusiaan.
Ayudya : Menjadi Kreator Bukan Sekadar Mengejar Viralitas
Salah satu narasumber dalam kegiatan ini adalah aktris Annisa Putri Ayudya, yang membawakan materi tentang menjadi konten kreator yang bijak. Kehadirannya memberikan perspektif mengenai pentingnya kesadaran dan tanggung jawab dalam menciptakan serta menyebarkan karya di ruang digital.
Menjadi konten kreator bukan semata-mata persoalan kemampuan berbicara di depan kamera, menyusun visual yang menarik, atau mengikuti tren yang sedang populer. Di balik setiap karya, terdapat pilihan tentang pesan yang ingin disampaikan, nilai yang hendak diperjuangkan, dan dampak yang mungkin muncul setelah konten dikonsumsi publik.
Kebijaksanaan seorang kreator tercermin dari kemampuannya mempertimbangkan apakah informasi yang dibagikan benar, apakah penyampaiannya menghormati orang lain, dan apakah karya tersebut membawa manfaat. Kreativitas semestinya tidak mengorbankan etika demi perhatian sesaat.
Pesan ini menjadi semakin penting ketika konten digital dapat menyebar tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Informasi yang tidak terverifikasi, narasi kebencian, serta pesan provokatif dapat memengaruhi banyak orang apabila diterima tanpa sikap kritis. Sebaliknya, karya yang mengedukasi, menginspirasi, dan menumbuhkan empati dapat menjadi bagian dari upaya merawat perdamaian.
Ayudya juga hadir dalam rangkaian acara melalui pembacaan puisi berjudul 23.45. Kehadiran seni dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa pesan dapat disampaikan melalui beragam cara. Kata-kata dan ekspresi kreatif dapat menjadi jembatan untuk menyentuh sisi kemanusiaan, mengajak orang merenung, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan bersama.
Qonik Hanifa: Jangan Hanya Ingin Viral, tetapi Jadilah Kreator yang Berdampak
Pesan tentang tanggung jawab kreator digital tersebut mendapat perhatian dari Pembina Broadcasting sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Muhammadiyah 2 Surabaya, Qonik Hanifa, S.Pd., Gr., M.M. Menurutnya, pelatihan Digital Peace Creator memberikan wawasan yang sangat berharga bagi pelajar, khususnya dalam membangun cara pandang yang lebih bijaksana terhadap dunia konten digital.
“Pelatihan ini sangat memberikan wawasan bagi pelajar bahwa menjadi konten kreator bukan sekadar mengejar viralitas atau mendapatkan banyak penonton. Lebih dari itu, kita harus memahami dampak dari setiap konten yang dibuat dan disebarkan. Jangan sampai kita sibuk mencari perhatian, tetapi lupa menghadirkan manfaat. Konten yang baik adalah konten yang mampu menginspirasi, mengedukasi, menumbuhkan kepedulian, dan membawa perubahan positif bagi orang lain,” ungkap Qonik.
Sebagai pembina di bidang broadcasting, ia memandang kemampuan teknis produksi konten perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Penguasaan kamera, penyuntingan video, penyusunan naskah, hingga strategi publikasi merupakan keterampilan penting. Namun, keterampilan tersebut akan memiliki nilai yang lebih besar ketika digunakan untuk menyampaikan informasi yang benar, membangun kesadaran, dan menghadirkan solusi.
Menurutnya, pelajar perlu menyadari bahwa popularitas bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah karya. Jumlah penonton memang dapat menunjukkan jangkauan konten, tetapi tidak selalu menggambarkan kualitas pesan maupun dampaknya bagi masyarakat.
"Ukuran keberhasilan seorang kreator bukan hanya seberapa jauh kontennya menjangkau audiens, tetapi juga seberapa baik dampak yang ditinggalkannya. Jangan hanya ingin viral, tetapi jadilah kreator yang berdampak,” tegasnya.
Ia berharap pengalaman dalam pelatihan ini dapat mendorong pelajar, khususnya mereka yang memiliki minat di bidang broadcasting dan produksi media, untuk lebih selektif dalam menentukan tren, menyusun pesan, dan memilih cara berkomunikasi dengan audiens.
Baginya, konten yang berdampak tidak harus selalu diproduksi dengan peralatan mahal atau konsep yang rumit. Gagasan sederhana yang disampaikan secara jujur, kreatif, dan tepat sasaran pun dapat memberikan manfaat. Hal terpenting adalah adanya tujuan yang jelas dan kesadaran bahwa karya digital merupakan bagian dari tanggung jawab kepada masyarakat.
Dari Literasi Digital Menuju Gerakan Perdamaian
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, dan penampilan seni Pencak Silat Kebhinnekaan. Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., menyampaikan laporan kegiatan, dilanjutkan sambutan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, serta Kepala BNPT, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H. Agenda juga mencakup *keynote speech* dari Anggota DPR RI Komisi XIII.
Dalam sesi penguatan materi, peserta mendapatkan pembelajaran dari narasumber daerah, Dr. Muchamad Arifin, S.Ag., M.Ag., mengenai penguatan literasi digital melalui pembuatan konten kreatif untuk mencegah radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan. Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan konten edukatif bersama narasumber nasional, disertai *pre-test* dan *post-test* untuk mengukur pemahaman peserta.
Pelatihan ini melibatkan peserta dari berbagai sekolah, madrasah, perguruan tinggi, pesantren, dan media di Jawa Timur. Setiap sekolah atau madrasah mengirimkan satu orang pendamping dan empat orang siswa. Keterlibatan lintas lembaga tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk saling belajar dan memperluas penyebaran narasi positif di berbagai platform digital.
Upaya mencegah radikalisme di ruang digital tidak cukup hanya dengan mengingatkan masyarakat agar menjauhi konten negatif. Diperlukan pula kehadiran konten alternatif yang mampu menjelaskan, mengedukasi, membangun empati, serta menawarkan sudut pandang yang menghargai perbedaan. Dalam konteks ini, pelajar dapat mengambil peran sebagai kreator yang mengisi ruang digital dengan karya yang memperkuat persatuan.
Pada akhirnya, Digital Peace Creator membawa pesan bahwa setiap orang yang berkarya di ruang digital memiliki kesempatan untuk menentukan arah pengaruhnya. Sebuah konten dapat menjadi sumber pengetahuan, jembatan dialog, dan pemantik perubahan positif apabila dibuat dengan kesadaran serta tanggung jawab.
Bagi generasi muda, tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat orang berhenti menggulir layar untuk melihat sebuah karya, tetapi bagaimana membuat mereka membawa pulang pesan bermakna setelah menontonnya.
Sebab, dunia digital tidak hanya membutuhkan kreator yang pandai menarik perhatian. Dunia digital membutuhkan kreator yang mampu menjaga kepercayaan, menghormati kemanusiaan, dan menghadirkan manfaat. **Bukan sekadar viral sesaat, melainkan berdampak lebih luas; bukan sekadar dikenal banyak orang, melainkan meninggalkan kebaikan bagi kehidup
